Icon

Seminar Nasional Pengembangan dan Pengelolaan Pariwisata Kawasan Gunung Berapi dan Pegunungan di Indonesia

Bogor, 10 Desember 2031 – Indonesia berada dalam posisi ring of fire yang memiliki gunung, terutama gunung-gunung yang masih aktif dan berapi, yang masuk dalam kelas tertinggi jumlahnya di dunia. Meletusnya dua gunung utama di Indonesia pada masa lalu, yaitu Gunung Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, tidak hanya meluluhlantakkan kondisi fisik dan ekonomi di lokasi gunung tersebut berada dan juga di Indonesia tetapi juga telah mengubah kondisi iklim skala dunia. Perubahan iklim dunia ini telah berdampak terhadap perubahan, terutama, pola pertanian dan tata kehidupan masyarakat lainnya.

Kawasan pegunungan juga diketahui sebagai kawasan yang subur untuk tanaman hortikultura, tanaman perkebunan dan ternak sapi perah serta beberapa produk pertanian bernilai tinggi lainnya, dan juga merupakan kawasan yang diminati untuk dikunjungi wisatawan karena kualitas udara yang mendukung kesehatan dan kenyamanan manusia serta keindahan panoramanya. Berbagai dampak positif terhadap meningkatnya kesejahteraan masyarakat pegunungan ini telah mendorong dibukanya berbagai kawasan sebagai destinasi wisata disertai dengan timbulnya beragam produk kreatif yang dihasilkan oleh masyarakat lokal. Contoh positif dapat dilihat dari kegiatan pariwisata Gunung Bromo di Jawa Timur, Gunung Rinjani di Lombok, juga Gunung Merapi di Yogyakarta.
Mengingat jumlah dan ketersebaran gunung serta pegunungan yang banyak di Indonesia, kapasitas dan kualitas yang dimilikinya, serta tingginya potensi pariwisata yang bersumber dari nilai intrinsik dan ekstrinsiknya maka kawasan gunung dan pegunungan dapat menjadi salah satu pengungkit devisa negara dan yang terpenting sebagai pengungkit kesejahteraan masyarakatnya. Guna menyusun metode pengembangannya yang tepat guna dan tepat sasaran maka perlu dipelajari berbagai kesuksesan dan kendala pengembangan, peraturan pemanfaatan kawasan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pegunungan dari berbagai sumber. Salah satu bentuk media pertukaran ilmu pengetahuan,  informasi dan pengalaman ini adalah melalui metode seminar.
Seminar ini bertujuan untuk mempelajari berbagai potensi dan kendala pengembangan, berbagai regulasi kawasan gunung berapi dan pegunungan di Indonesia, pengembangan pariwisata gunung berapi dan pegunungan yang berbasis budaya dan kesejahteraan masyarakat lokal, serta bahasan pengalaman (lesson learned) pengelola pariwisata kawasan gunung ini. Melalui kegiatan seminar ini diharapkan para peserta memiliki wawasan dan kreativitas berbasis lingkungan alami dan budaya masyarakat lokal dalam mengelola pengembangan suatu kawasan dan produk pariwisata gunung berapi dan pegunungan.
Seminar ini dalam rangka menyongsong Asia Pasific Region International Federation of Landscape Architecs (APR IFLA) Conference di Indonesia pada tahun 2015. Peserta terdiri dari pejabat pemerintah daerah terutama dinas pariwisata, akademisi, pengusaha dan pemerhati pariwisata dan arsitek lanskap yang menangani perencanaan dan pengelolaan pariwisata gunung berapi dan pegunungan. Pembicara kunci adalah Dirjen EKMDI, Drs. Harry Waluyo, M.Hum; ahli Geologi dan Vulkanologi, Dr. Indiyo Pratomo; Ahli Perencanaan Wilayah, Dr. Seta Hadi; ahli arkeologi, Bambang Budi Utomo; ahli ekowisata, Dr. Soehartini Sekartjakrarini; dan Staf Ahli  Ekowisata, Dr. Suryo Adiwibowo.
Seminar ini diharapkan memberi manfaat yang tinggi untuk kelestarian kawasan dan budaya pegunungan serta kesejahteraan masyarakat di sekitar pegunungan melalui kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Tulisan diambil dari: Situs Resmi Kementrian Parekraf